Bahaya FREE SEX yang jadi gaya hidup

Memperhatikan
pola dan gaya hidup kaum muda saat ini, sungguh telah berada dalam
kualitas moral yang sangat memprihatinkan. Norma-norma budaya dan agama
diabaikan begitu saja sampai batas yang sangat akut, demi sekedar untuk
merengguh predikat ‘generasi modern’. Hampir semua budaya modernitas —
dengan ideologi liberalisme-nya — diusung ke dalam seluruh ruang
kehidupan. Tidak sejengkal pun disisakan untuk memberi ruang bagi
tumbuhnya etika religius dan etika kultural lokal. Salah satu budaya
modernitas yang saat ini menjadi trend gaya hidup (life style) kaum muda
adalah budaya seks bebas atau free sex. Bahkan jika ada sekelompok kaum
muda yang gagap dengan budaya yang satu ini dianggap kuno atau
ketinggalan jaman. Sampai “pacaran tanpa seks” dinilai hambar.
Siapapun
yang terjun dalam dunia pacaran berarti menyiapkan diri untuk terjun ke
dunia “seks pra nikah”. Saat ini, seks pra nikah di sebagian kalangan
pemuda -baik pelajar ataupun mahasiswa- bukanlah hal yang tabu lagi.
Yang terpenting bagi mereka adalah berusaha semaksimal mungkin -meski
aktif melakukan hubungan seks (pra nikah) tetapi- tidak hamil. Dan di
kalangan yang ‘kebetulan’ tidak melakukan perilaku seks bebas pun, tidak
serta-merta memiliki pandangan bahwa seks bebas merupakan hal yang
ditabukan. Tetapi lebih dipandang sebagai pilihan pribadi atau hak
individu. Karena itu ‘seks bebas’ dalam kacamata kelompok ini tidak
dapat dipandang sebagai ‘budaya menyimpang’. Hubungan seksual di
kalangan kaum modern ini lebih dipandang sebagai hal yang alamiah
belaka. Karena itu, libido seksual pun dipandang sebagai reaksi biologis
semata, yang bila perlu disalurkan di mana saja dan kapan saja tanpa
harus ada ritus-ritus sakral, baik dalam perspektif budaya atau
lebih-lebih perspektif agama. Bahkan tidak sedikit yang menjadikannya
sebagai simbol kemodernan. Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan
pembenar berkaitan dengan munculnya budaya fee sex di kalangan pemuda.
Pertama, rapuhnya jalinan kasih-sayang dalam institusi keluarga. Tidak
sedikit orangtua di era kekinian yang lebih sibuk dengan urusan
pribadinya masing-masing atau lebih berorientasi materialistik.
Perhatian dan kasih-sayang terhadap anak kerap lebih diaktualisasikan
dengan pemenuhan kebutuhan biologis/fisik sang anak tanpa mempedulikan
kebutuhan psikologisnya. Karena itu, seks bebas sejatinya tidak hanya
disebabkan oleh tingginya tingkat libido generasi yang baru mengalami
pubertas ini, tetapi juga akibat dari kesalahan menerjemahkan makna
kasih sayang di antara sesama. Hal ini adalah akibat dari kurangnya
pendidikan dalam keluarga. Kaum muda akhirnya lebih mencari makna
sendiri di luar secara sepotong-sepotong (parsial) dan kemudian
dianggapnya yang paling sempurna. Kedua, pengaruh budaya asing yang
tidak sejalan dengan budaya bangsa dan agama –yang justru disebarluaskan
oleh berbagai media massa dan elektronik. Termasuk juga dengan begitu
mudahnya mengakses situs-situs porno di internet. Globalisasi media
merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan begitu mudahnya
budaya-budaya asing masuk ke dalam ruang kehidupan keluarga yang tidak
dapat di filter lagi. Ketiga, rapuhnya pendidikan moral dan agama di
dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Kerap kali orangtua lebih
mengedepankan pemenuhan kebutuhan material daripada immaterial bagi
anak-anaknya. Pendidikan moral dan agama lebih dipercayakan kepada
lembaga pendidikan (sekolah) yang berlangsung hanya beberapa jam saja.
Termasuk juga lingkungan masyarakat yang kian apatis terhadap perilaku
menyimpang yang terjadi dalam anggotanya. Masyarakat sebagai lembaga
kontrol sosial tidak berjalan dengan semestinya. Untuk itu, dalam usaha
merebaknya budaya seks bebas di kalangan kaum muda sangat diperlukan
penanganan yang koordinatif dan sistematis. Keluarga tidak dapat
semata-mata menyalahkan media sebagai penyebar budaya masif tersebut
ataupun pemerintah yang seakan cuek dengan kian merapuhnya kualitas
moral generasi muda. Keluarga sebagai institusi yang paling fundamental
perlu juga lebih meningkatkan kualitas pendidikan moral dan religi agar
para generasi muda memiliki bekal yang kuat sebelum melangkah jauh
menapaki alam sosial yang lebih luas
No comments:
Post a Comment