RESIKO ABORSI REMAJA TERHADAP KESEHATAN DAN KESELAMATAN FISIK
Belum
lama ini kita dapatkan informasi adanya penemuan mayat janin yang
dibuang di salah satu lahan sawah warga. Kejadian pembuangan janin ini
juga pernah kita dengar di tempat lain. Kemungkinan pembuangan mayat
janin dikarenakan adanya kehamilan yang tidak diinginkan oleh pelaku.
Biasanya si pelaku adalah para remaja yang diduga telah melakukan
pacaran di luar batas kewajaran sehingga menyebabkan kehamilan.
Gaya
pacaran remaja saat ini sudah mulai mengarah kearah yang sangat bebas
dan tanpa adanya norma-norma yang membatasi pergaulan mereka. Dahulu
seks adalah hal yang sangat tabu dan sangat tercela namun diera
globalisasi ini dimana perkembangan teknologi yang kian mendunia para
remaja bahkan anak dibawah umur dapat dengan mudah membuka situs-situs
yang seharusnya tidak layak untuk ditonton. Tanpa kita sadari
perkembangan tekhnologi membawa dampak negative dimana masyarakat mulai
mengikuti kebudayaan barat yang bebas dan tanpa batasan. Ditandai dengan
adanya seks bebas yang mengakibatkan semakin maraknya kasus aborsi
yang dilakukan oleh kaum remaja
Resiko
meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tidak dapat
dihindari akibat perkembangan budaya modern dan meningkatnya usia
pasangan nikah. Tapi sangat disayangkan apabila pemerintah dan juga
kalangan pendidik dan komponen masyarakat tidak memiliki sebuah konsep
yang terarah dan jelas untuk menghadap fenomena sosial ini. Peningkatan
usia nikah harusnya juga diikuti dengan pembekalan mengenai sex pada
kalangan remaja sehingga mereka bisa mengendalikan diri dan menjauhi
perilaku sex beresiko tersebut. Akan tetapi budaya sex tabu menempatkan
kalangan remaja seperti anak kecil yang dipandang dan dianggap tidak
perlu tahu masalah sex.
Hasil
penelitian Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP
dan SMA di Cianjur terungkap 42,3 persen pelajar telah melakukan
hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah. Beberapa dari
siswa mengungkapkan, dia melakukan hubungan seks tersebut berdasarkan
suka dan tanpa paksaan. Sedang penelitian lain menemukan jumlah yang
cukup fantastis, 21-30% remaja Indonesia di kota besar seperti Bandung,
Jakarta, Yogyakarta telah melakukan hubungan seks pra-nikah Beberapa
pakar berpendapat bahwa angka yang diperoleh melalui penelitian itu
hanyalah puncak dari sebuah gunung es, yang kakinya masih terbenam dalam
samudera
Hubungan seks bebas membawa cukup banyak dampak negative pada diri
pelaku maupun pada lingkungan sekitar,dimana seks bebas memungkinkan
seseorang akan tertular penyakit dan adanya kehamilan di luar nikah.
Beberapa faktor remaja melakukan aborsi adalah :
1. Pengalaman
keberhasilan aborsi pertama dan berkurangnya perasaan cemas pada
kehamilan berikutnya. Di samping itu, perilaku aborsi berulang ini juga
dilatarbelakangi oleh keadaan diri subjek yang kurang bisa bertanggung
jawab pada diri sendiri serta adanya faktor eksternal yakni bantuan dari
orang yang signifikan (pacar subjek).
2. Faktor
yang lain remaja melakukan aborsi karena adanya rasa ketakutan pada
orang tua, ketakutan membuat malu nama keluarga, kurang dapat menerapkan
nilai-nilai moral dan agama yang diajarkan, dan tingginya kebutuhan
kasih sayang akan pacar yang didukung oleh tingginya kebutuhan seks.
Keputusan untuk melakukan aborsi berulang juga tidak lepas dari faktor
kognitif dan kepribadian yang ada pada remaja. Remaja yang melakukan
aborsi berulang cenderung kurang mempunyai pikiran jangka panjang dan
kurang memahami resiko dari perilaku aborsi itu sendiri. Sedangkan
kepribadian mereka cenderung infantil, regresi, dan dangkal.
Berikut ini resiko yang mungkin dialami oleh remaja perempuan bila melakukan aborsi.Resiko kesehatan dan keselamatan fisik, Pada
saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko
yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku
“Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu:, Kematian mendadak karena pendarahan hebat, Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal, Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan, Rahim yang sobek (Uterine Perforation), Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya, Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita), Kanker indung telur (Ovarian Cancer), Kanker leher rahim (Cervical Cancer), Kanker hati (Liver Cancer), Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat, pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya, Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy), Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease), Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).

No comments:
Post a Comment