2012-12-07

RESIKO ABORSI REMAJA TERHADAP KESEHATAN DAN KESELAMATAN FISIK

Belum lama ini kita dapatkan informasi adanya penemuan mayat janin yang dibuang di salah satu lahan sawah warga. Kejadian pembuangan janin ini juga pernah kita dengar di tempat lain. Kemungkinan pembuangan mayat janin dikarenakan adanya kehamilan yang tidak diinginkan oleh pelaku. Biasanya si pelaku adalah para remaja yang diduga telah melakukan pacaran di luar batas kewajaran sehingga menyebabkan kehamilan.
Gaya pacaran remaja saat ini sudah mulai mengarah kearah yang sangat bebas dan tanpa adanya norma-norma  yang membatasi pergaulan mereka. Dahulu seks adalah hal yang sangat tabu dan sangat tercela namun diera globalisasi ini dimana perkembangan teknologi yang kian mendunia para remaja bahkan anak dibawah umur dapat dengan mudah  membuka situs-situs yang seharusnya tidak layak untuk ditonton. Tanpa kita sadari perkembangan tekhnologi membawa dampak negative dimana masyarakat mulai mengikuti kebudayaan barat yang bebas dan tanpa batasan. Ditandai dengan adanya seks bebas yang mengakibatkan  semakin maraknya kasus aborsi yang dilakukan oleh kaum remaja 
Resiko meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tidak dapat dihindari akibat perkembangan budaya modern dan meningkatnya usia pasangan nikah. Tapi sangat disayangkan apabila pemerintah dan juga kalangan pendidik dan komponen masyarakat tidak memiliki sebuah konsep yang terarah dan jelas untuk menghadap fenomena sosial ini. Peningkatan usia nikah harusnya juga diikuti dengan pembekalan mengenai sex pada kalangan remaja sehingga mereka bisa mengendalikan diri dan menjauhi perilaku sex beresiko tersebut. Akan tetapi budaya sex tabu menempatkan kalangan remaja seperti anak kecil yang dipandang dan dianggap tidak perlu tahu masalah sex.
Hasil penelitian Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP dan SMA di Cianjur terungkap 42,3 persen pelajar telah melakukan hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah. Beberapa dari siswa mengungkapkan, dia melakukan hubungan seks tersebut berdasarkan suka dan tanpa paksaan. Sedang penelitian lain  menemukan jumlah yang cukup fantastis, 21-30% remaja Indonesia di kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta telah melakukan hubungan seks pra-nikah Beberapa pakar berpendapat bahwa angka yang diperoleh melalui penelitian itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es, yang kakinya masih terbenam dalam samudera
            Hubungan seks bebas  membawa cukup banyak dampak negative pada diri pelaku maupun pada lingkungan sekitar,dimana  seks bebas memungkinkan seseorang akan tertular penyakit dan adanya kehamilan di luar nikah. Beberapa faktor remaja melakukan aborsi adalah :
1.    Pengalaman keberhasilan aborsi pertama dan berkurangnya perasaan cemas pada kehamilan berikutnya. Di samping itu, perilaku aborsi berulang ini juga dilatarbelakangi oleh keadaan diri subjek yang kurang bisa bertanggung jawab pada diri sendiri serta adanya faktor eksternal yakni bantuan dari orang yang signifikan (pacar subjek).
2.    Faktor yang lain remaja melakukan aborsi karena adanya rasa ketakutan pada orang tua, ketakutan membuat malu nama keluarga, kurang dapat menerapkan nilai-nilai moral dan agama yang diajarkan, dan tingginya kebutuhan kasih sayang akan pacar yang didukung oleh tingginya kebutuhan seks. Keputusan untuk melakukan aborsi berulang juga tidak lepas dari faktor kognitif dan kepribadian yang ada pada remaja. Remaja yang melakukan aborsi berulang cenderung kurang mempunyai pikiran jangka panjang dan kurang memahami resiko dari perilaku aborsi itu sendiri. Sedangkan kepribadian mereka cenderung infantil, regresi, dan dangkal.
Berikut ini resiko yang mungkin dialami oleh remaja perempuan bila melakukan aborsi.Resiko kesehatan dan keselamatan fisik, Pada saat melakukan aborsi  dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu:, Kematian mendadak karena pendarahan hebat, Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal, Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan, Rahim yang sobek (Uterine Perforation), Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya, Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita), Kanker indung telur (Ovarian Cancer), Kanker leher rahim (Cervical Cancer), Kanker hati (Liver Cancer), Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat, pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya, Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy), Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease), Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).

No comments:

Post a Comment